Ludwig van Beethoven merupakan salah satu komposer yang mampu mempengaruhi peradaban musik dunia. Ratusan karya berhasil dia tulis dalam bentuk solo piano, symphony, string kuartet, concerto, sonata piano, sonata untuk piano dan biola, dan opera klasik. Dari banyak dan beragam karyanya yang membawa nama besar, kami mencoba menyajikan tulisan mengenai beberapa lagu Beethoven yang paling terkenal versi Komukote.

Popularitas Beethoven bukan hanya berkaitan dengan karya musiknya saja, melainkan juga kehidupannya yang penuh dengan misteri dan mungkin kontroversi. Oleh karena itu, kami menulis tentang lagu beethoven paling terkenal dengan dilengkapi biografi dan latar belakang penulisan komposisi musiknya.

Lagu Beethoven yang Paling Terkenal

Beethoven merupakan figur di masa transisi yang menjadi tokoh sentral di era musik Klasik abad ke-18 menuju gaya Romantik abad ke-19. Komposisi-komposisinya telah mampu memberikan gambaran tentang dedikasi dan kegigihannya dalam menunjukan personalitas dan karakter pribadi sang komposer yang fenomenal.

Biografi dan Keluarga Beethoven

Hingga kini belum diketahui secara pasti kelahiran komposer legendaris ini. Namun 17 Desember 1770, sebagai momen proses baptis Ludwig van Beethoven, digunakan untuk menandai ulang tahun dirinya.

Beethoven sendiri lahir di Bonn dengan kenegaraan Jerman yang tumbuh di lingkungan musik dari ibu yang bernama Maria Magdalena Keverich. Ayahnya, Johann van Beethoven, merupakan seorang penyanyi Tenor yang bekerja untuk Pangeran Bonn. Gen seni musiknya sudah ada dari sang kakeknya, Ludwig Louis van Beethoven, yang mendapat tugas sebagai penyanyi di kapel istana Bonn.

Johann van Beethoven terobsesi untuk menjadikan anaknya seperti Wolfang Amadeus Mozart si ‘anak ajaib’, sehingga memaksa Ludwig van Beethoven berlatih piano dengan keras. Kehidupan yang penuh dengan pengorbanan dan perjuangan besar mampu dijadikan sumber inspirasi dalam membuat komposisi musik sehingga mengangkat lagu Beethoven yang paling terkenal diantara komposer lainnya.

Beethoven menopang kehidupan kedua adiknya saat ibunya meninggal dan sang ayah hanya menjadi pemabuk berat. Saat itu, Beethoven mendapat penghasilan tetap dengan memberi les piano kepada keluarga kerajaan.

Diperjalanan kariernya, Ludwig van Beethoven menghadapi kendala besar karena mengalami gangguan pendengaran, bahkan hingga tuli total. Meskipun tidak lagi bisa bermain dalam konser, ia tetap menulis komposisi, bahkan pada masa tersebut justru berhasil mencipta sebagian karya-karya terbesarnya.

Meski pada awalnya ia memiliki motif finansial dalam menyusun komposisi musik, namun pada perkembangannya (tahun 1820) ia mulai digerakkan oleh imajinasi dan kata hati. Beethoven menempatkan aspek personalitas dalam bentuk individualitas, subjektivitas, dan ekspresi emosional dan mendorong untuk dijadikan sebagai standar pada komposer-komposer Romantik.

Beethoven wafat 26 Maret 1827 di Wina meninggalkan karya-karya besar yang bernilai estetis dan artistik tinggi. Sebagian karya-karya terbesarnya baru bisa dipublikasikan setelah dia meninggal. Bahkan, di awal abad 20, salah satu sheet music (lembaran musik) atau partitur karya dan asli tulisan tangannya yang baru ditemukan, terjual dalam lelang dengan harga fantastis, yakni US$ 100 ribu atau setara Rp 1,3 miliar.

Enam Guru Komposisi Musik Beethoven

Nama Beethoven tidak hanya populer sebagai pianis virtuoso (pianis yang luar biasa), namun juga sebagai komposer besar. Lagu-lagu Beethoven yang paling terkenal telah mengangkat dan menempatkan dirinya dalam deretan komposer dunia. Predikat ini tidak lepas dari peran guru-gurunya saat dia belajar komposisi dan alat musik, diantaranya:

  1. Christian Gottlob Neefe (1748-1798) menjadi guru komposisi pertama Beethoven dengan mengajarinya memainkan karya-karya Johann Sebastian Bach dan cara berimprovisasi. Neefe juga membantu menerbitkan karya pertama Beethoven dan memprediksi bahwa dia bisa menjadi ‘Mozart’ yang kedua.
  2. Franz Riez menjadi guru Beethoven saat berusia belasan tahun bersamaan dengan dirinya diangkat secara resmi sebagai wakil Neefe dalam bermain organ dan harpsikord oleh Pangeran Bonn (Franz Xaver) antara tahun 1783 s.d 1785.
  3. Joseph Haydn yang juga merupakan komposer terkenal menjadi guru komposisi musik Beethoven berikutnya atas biaya dari Pangeran Franz. Beethoven melakukan perjalanan ke Wina untuk belajar musik kepada Haydn atas bantuan dari Pangeran Waldstein.
  4. Johann Schenk salah satu guru Beethoven untuk belajar komposisi musik saat diriinya mulai mengambil keputusan menetap dan berkarier di Wina. Saat itu Beethoven dipanggil oleh Pangeran Franz untuk kembali ke Bonn, namun tetap memilih masih belajar komposisi kepada Joseph Haydn, sekaligus kepada Johann Schenk meski tanpa sepengetahuannya.
  5. Johann Georg Alberchtsberger menjadi guru berikutnya bagi Beethoven saat Haydn pergi ke London awal tahun 1794.
  6. Bersamaan dengan itu, Antonio Salieri juga menjadi guru Beethoven saat dia memulai kariernya di Wina sebagai pianis.

Karya-karya Beethoven menjadi sentra dalam sejarah musik diatonik dan mampu menginspirasi banyak komponis maupun musisi di periode selanjutnya. Kekuatan-kekuatan revolusioner telah mendorong Beethoven menempati posisi sebagai pembaharu artistik yang merdeka, indipenden atau bebas dari pengaruh kekuasaan (patron) tertentu.

Komposisi Musik dan Lagu Beethoven yang Paling Terkenal

Diakui bagi Admin Komukote bahwa tidak mudah menyusun deretan lagu Beethoven yang paling terkenal pada sebuah postingan hingga ada penilaian subjektif di dalamnya. Namun, penulis tetap berupaya meminimalisirnya dan semaksimal mungkin mendekati objektif.

Pertemuan Beethoven dengan Mozart pada tahun 1787, saat pergi ke Wina atas perintah Pangeran Franz, menjadi momen untuk menemukan ambisi dibidang seni musik. Saat itu Mozart memberi motivasi kepada Beethoven untuk bisa menjadi musikus besar di masa depan.

Terbukti, komposisi musik Beethoven memiliki gaya baru dan memberikan pengaruh serta menjadi tonggak sejarah musik Romantik. Seperti halnya Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’, Op. 55. yang didedikasikan untuk menunjukan kemarahannya pada Napoleon Bonaparte setelah mengumumkan dirinya menjadi kaisar Perancis.

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah kata yang melekat pada komposer paling fenomenal ini sehingga komposisi lagu-lagu Beethoven yang paling terkenal didominasi dengan ekspresi dan idealisme sang komposer.

Meski demikian, Admin Komukote tidak memasukan Symphony No. 3 Eroica dalam urutan daftar Enam Lagu Beethoven yang Paling Terkenal. Symphony Eroica memang mampu memperlihatkan sikap Beethoven yang mau berjuang dari masa depresinya dan tak mau kalah oleh penyakit. Selain itu, Symphony No. 3 ini bersama karya-karya besar lainnya juga berhasil membantu Beethoven menunjukan dirinya sebagai pujangga musik dunia yang mampu menembus batas-batas kultur Barat.

Namun, bagi penulis, Simphoni Eroica menjadi bagian dari sikap temperamental yang belum dapat dikontrol dan di-cover dengan baik oleh Beethoven. Hal ini juga diakui sendiri oleh Beethoven melalui steatmennya yang kecewa dengan publik karena hanya fokus kepada “Moonlight Sonata”, padahal dia bisa membuat karya lebih bagus lagi.

Adapun karya komposisi musik berupa lagu Beethoven yang paling terkenal versi Komukote adalah sebagai berikut:

1. Misteri dan Romantisme “Fur Elise” Lagu Beethoven Paling Terkenal

Penikmat musik, terutama untuk lagu klasik, tentunya mengenal lagu Fur Elise yang sangat romantis ini. Hingga sekarang telah dimainkan dalam berbagai versi baik Piano, String, maupun Gitar, bahkan di masa modern ini tidak hanya disajikan secara klasik akustik melainkan juga remix.

Melodinya banyak digunakan oleh instansi ataupun perusahaan sebagai tanda dimulai atau diakhirinya suatu aktivitas. Beberapa game atau permainan juga menggunakan lagu ini sebagai pengiring. Di komunitas penikmat dan pemain musik sendiri, lagu Fur Elise menjadi favorit pembelajaran, apa lagi di lingkungan peserta Program Kursus Piano Klasik Komukote.

Für Elise merupakan komposisi dari Ludwig van Beethoven yang paling populer dan Memiliki nama lain Bagatelle No. 25 in A minor (WoO 59, Bia 515). Selama hidup komposernya, karya yang dalam bentuk asli piano solo ini tidak dipublikasikan hingga kemudian sheet musiknya ditemukan dan diterbitkan oleh Ludwig Nohl.

Misteri Dibalik Sosok Elise

Fur Elise menjadi salah satu judul lagu Beethoven yang paling terkenal berkat cerita misteri dari latar belakang karya dan kisah hidup komposernya. Penemuan sheet music Fur Elisa 40 tahun setelah kematian penulisnya membawa teka-teki bagi banyak peneliti. Identitas “Elise” tidak diketahui secara pasti, hingga setidaknya ada tiga teori yang muncul dari beberapa peneliti mengenai siapa sosok ‘Elise’ yang menjadi objek judul ini, yaitu diantaranya:

  1. Penuisan ‘Elise’ merupakan suatu kekeliruan dari proses penyalinan naskah musik yang disebabkan karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa penulisan “Fur Elise” seharusnya adalah “Fur Therese” (Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza).
  2. ‘Elise’ ditujukan kepada Elisabeth Röckel seorang komposer dan penyanyi opera yang bertemu dengan Beethoven beberapa tahun sebelum komposisi ini diciptakan. (Klaus Martin Kopitz, 2009).
  3. ‘Elise’ merupakan istilah yang digunakan sebagai pengganti kata “sayang”. Namun teori ini kurang mendapat dukungan dan klaim yang membebenarkannya. Dalam sejarah dedikasinya, Beethoven disimpulkan bukan sebagai pengguna kata kiasan, namun pribadi yang berkarakter lugas, tegas, dan idealis.

Sayangnya ketiga teori tersebut hanya berupa hipotesa dan kebenaran dari siapa sebenarnya ‘Elise’ belum diketahui secara pasti oleh para peneliti. Misteri ini semakin kompleks setelah autograph atau naskah tulisan asli Fur Elise yang ditandatangani Beethoven hilang.

Gambaran yang berikutnya muncul adalah melodi pembuka Fur Elise yang terkenal menjadi petunjuk inisial wanita pujaan Beethoven. Melodinya dimulai dengan halus dan lembut dari nada E – D# – E, atau enharmonisnya E – E♭ – E,  yang kemudian dibaca E – Dis – E atau E – Es – E. Deretan nada dari awal lagu tersebut kemudian diterjemahkan membentuk nama ThErESE atau mungkin EliSE.

Romantisme dalam Kehidupan Cinta Beethoven

Mungkin banyak orang yang memiliki persepsi bahwa ‘romantis’ merupakan kisah cinta menarik dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Namun jika kita coba analisa dari perjalanan dan fakta sejarah, sebenarnya titik berat ‘romantis’ itu bukan pada ending cerita, melainkan dari prosesnya.

Di masa revolusi industri, ‘romantisme’ muncul sebagai gerakan perubahan melawan norma-norma kebangsawanan, sosial, dan politik sekaligus menjadi reaksi terhadap rasionalisasi alam. Fokus Romantisme terletak pada bagian kuatnya emosi (seperti rasa takut, ngeri, dan takjub) yang dialami seseorang ketika berjuang.

Berbeda dengan komposer musik klasik lainya, Ludwig van Beethoven bukan berasal dari keluarga kerajaan, namun mampu masuk ke dalam komunitas dan bergaul dengan para bangsawan. Kesuksesan besarnya menjadi komponis dunia merupakan bagian dari hasil kerja kerasnya dan kecerdasannya dalam bermusik.

Namun sayangnya keberhasilan karier dibidang musik tidak secara otomatis membawa Beethoven dalam kesuksesan rumah tangga. Theresa sendiri, puteri dari Jacob Malfatti von Rohrenbach (seorang saudagar dari Wina), akhirnya menikah dengan orang lain. Sedangkan Elisabeth Röckel yang memiliki nama baptis Maria Eva Elise (catatan di St Stephen’s Cathedral Vienna), menikah dengan komposer Johann Nepomuk Hummel.

Terlepas dari lagu Fur Elise ditujukan untuk siapa, hingga akhir hayatnya Beethoven tercatat dalam biografi tidak pernah menikah.

2. Beethoven Symphony No. 9 in D minor, Op. 125

Symphony No. 9 in D minor dikenal dengan Ode to Joy dan populer di Indonesia melalui Song of Joy. Butuh waktu lebih dari enam tahun untuk menyelesaikan komposisi yang luar biasa ini. Lamanya proses penyelesaian karya ini berkaitan dengan kondisi Beethoven yang sudah tidak bisa mendengar nada secara normal.

Symphony No. 9 menjadi penutup sekaligus puncak dari sembilan simfoni karya Ludwig van Beethoven yang digambarkan sebagai ‘Pilar Peradaban Barat’. Opus atau karya ini telah berhasil memberi pengaruh besar pada musik di masa Romantik (abad ke-19). Bahkan hingga kini, di jaman modern, karya ini tetap menjadi musik klasik dan lagu Beethoven yang paling terkenal di seluruh dunia.

Symphony No. 9 in D minor menjadi terobosan sekaligus level baru dalam sejarah musik simfoni yang pertama dengan menambah serta memadukan choir pada orkestrasinya. Solis dan paduan suara pada choir bernyanyi di bagian akhir komposisi membawakan puisi karya Friedrich Schiller, “An die Freude” (dalam bahasa Inggris berarti Ode to Joy).

Kalimat “Freude, schöner Götterfunken”, (kesenangan, cahaya ilahi yang indah) dipilih oleh Beethoven untuk memulai bagian utama dari komposisi musik yang megah dan agung.

Karya ini ditulis di Wina dan pertama kali dipertunjukan kepada masyarakat umum tanggal 7 Mei 1824 di gedung pertunjukan Kärntnertortheater. Pada tahun 1972 bagian terakhir, sebagai tema utama, Symphony No. 9 menjadi Hymne Eropa. Kemudian tahun 1985 melodi ini resmi dikukuhkan sebagai Hymne Uni Eropa.

Symphony No. 9 in D minor: “Choral” yang didedikasikan untuk King Friedrich Wilhelm III of Prussia ini dianggap sebagai mahakarya dari Beethoven yang terhebat. Pengaruhnya bukan hanya dalam revolusi musik , namun juga berperanan penting dalam lingkungan budaya modern.

3. Moonlight Sonata

Piano Sonata no. 14 in C# (sharp) minor “Quasi una Fantasia”, op. 7 no. 2 merupakan salah satu karya sonata dengan komposisi piano hebat dan menjadi lagu Beethoven yang paling terkenal. Dijuluki Moonlight Sonata oleh seorang penyair, Ludwig Rellstab, dan diumpamakan dengan keindahan cahaya efek dari sinar bulan purnama yang terlihat menyala di tepi Danau Lucerne.

Para penulis biografi menyebutkan bahwa Moonlight Sonata dibuat di Hongaria, tapatnya di perkebunan milik keluarga Brunswick, tahun 1801. Komposisi ini didedikasikan untuk murid yang dicintainya, Countess Giulietta Guicciardi. Namun, perbedaan derajat antara Giulietta (anak bangsawan) dan Beethoven (rakyat biasa) menjadi salah satu penyebab akhir dari hubungan mereka.

Komposisi Piano Sonata no. 14 in C# minor “Quasi una Fantasia”

Meski saat itu sudah mulai mengalami gangguan pendengaran, namun Beethoven tetap mampu menyelesaikan Piano Sonata no. 14 in C# (sharp) minor “Quasi una Fantasia”, op. 7 no. 2 atau Moonlight Sonata yang terdiri dari tiga movement, yaitu

  1. Adagio sostenuto;
  2. Allegretto;
  3. Presto Agitato

Tiap bagian memiliki karakteristik unik hingga opus atau karya ini mendapat apresiasi luar biasa dari para musikolog.

Irama Moonlight Sonata cenderung berulang dengan dinamika yang mampu membawa pendengarnya merasakan roman kehidupan Beethoven. Komposisi ini juga diterjemahkan oleh para penikmat musik untuk menggambarkan emosi yang dalam dan menyentuh perasaan serta penuh ironi.

Pada movement pertama Moonlight Sonata, Adagio Sustenuto, dimulai dengan permainan not di bagian tangan kiri berpadu triplet di tangan kanan. Gerakan pianissimo (lembut) mewakili sikap sentimental terhadap karakter Beethoven yang keras hingga kemudian disebut oleh Hector Berlioz sebagai “lamentation” (ratapan).

Di movement kedua Moonlight Sonata, Allegretto, pola permainannya memberikan nuansa yang berbeda dalam bentuk ceria. Franz Liszt menyebutnya “a flower between two chasms” (bunga diantara dua jurang) dengan dipenuhi Accents sforzandos yang signifikan.

Style pada movement ketiga Moonlight Sonata, Presto Agitato, merupakan “Stormy Final” yang menjadi klimaks dari komposisi ini. Arpeggios yang harus dimainkan dengan cepat dan accent yang kuat, sehingga diperlukan permainan skillful serta ekspresi yang matang.

Ditulis oleh Charles Rosen, “it is the most unbridled in its representation of emotion. Even today, two hundred years later, its ferocity is astonishing.” (ini benar benar merupakan emosi yang tidak terkendali. Sekarang, 200 tahun kemudian, ini adalah keganasan yang menakjubkan). Bahkan menurut beberapa peneliti, movement ketiga Moonlight Sonata ini menginspirasi Frédéric Chopin dalam karyanya Fantaisie-Impromptu.

4. Beethoven Symphony No. 5 in C-minor, Op.67

Komposisi The Fifth Symphony menjadi salah satu lagu Beethoven yang paling terkenal dalam era musik klasik Eropa yang sering dimainkan. Symphony No. 5 juga dijuluki dengan nama “Simfoni Takdir” oleh Anton Schindler sebagai penulis pertama biografi Beethoven.

Symphony No. 5 karya Beethoven diinterpretasikan sebagai cerita kekalahan dan kemenangan, tentang perjuang merubah nasib manusia untuk bebas dari kesengsaraan. Komposisi ini memiliki ide dasar pemikiran budaya Eropa “per aspera ad astra” (melalui kegelapan malam menuju cahaya) yang bermakna menempuh kesulitan atau penderitaan untuk mencapai kebahagiaan.

Penyusunan Simfoni Kelima melalui proses yang panjang karena Beethoven berulang kali menyela penulisan karya ini untuk menyiapkan komposisi lain. “Sketsa” pertama (rancangan kasar melodi dan ide musik lainnya) dimulai tahun 1804 hingga persiapan akhirnya berlangsung pada 1807–1808 bersamaan dengan Sixth Symphony.

The Fifth Symphony ditampilkan perdana 22 Desember 1808 pada konser mammoth di Theater an der Wien di Wina yang seluruhnya merupakan pertunjukan Beethoven dan disutradarai langsung oleh Sang Komposer di podium konduktor. Komposisi ini terdiri atas empat bagian, yaitu:

  1. Allegro con brio (C minor) sebagai pembuka;
  2. Andante con moto (A ♭ major);
  3. Scherzo: Allegro (C minor),
  4. Allegro (C mayor) berupa attaca sebagai penutup.

Seperti halnya Symphony No. 9, Symphony No. 5 juga memiliki pengaruh besar bagi karya klasik abad 19. Misalnya dalam karya-karya Anton Bruckner, Gustav Mahler, Johannes Brahms, Pyotr Ilyich dan Tchaikovsky. Pencapaian reputasi yang luar biasa dari Simfoni No. 5 menempatkan komposisi ini sebagai sentral dalam daftar lagu dan menjadikannya ikon musik klasik. Dalam bahasa E.T.A. Hoffmann Symphony No. 5 disebut sebagai “salah satu karya terpenting pada masa itu”.

Symphony No. 5 karya Beethoven dianggap sebagai permulaan simfoni gaya baru karena memiliki tempo nada seperti mars yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Beethoven mempersembahkan Simfoni Kelima kepada dua patronnya, Pangeran Franz Joseph von Lobkowitz dan Count Razumovsky.

5. Marcia Alla Turca – The Turkish March Versi Beethoven

Lagu Beethoven yang paling terkenal selanjutnya adalah The Turkish March atau Marcia Alla Turca. Menggunakan tema musik march klasik dan ditulis dalam gaya Turki yang termasuk musik populer pada saat itu dan diakui secara luas sejak dulu.

Marcia Alla Turca merupakan salah satu karya Beethoven yang dimainkan secara orkestra dengan voice woodwind lebih dominan daripada string. Ditulis sebagai musik insidental sekaligus penutup untuk dimainkan di festival musik Kotzebue’s hingga kemudian dikorelasikan dengan Overture: “Die Ruinen von Athen” (The Ruins of Athens).

Meski berbentuk musik orkestra, namun dapat juga dimainkan dengan piano solo. Bahkan Marcia alla Turca mendapat respon bagus dari banyak peserta kursus musik piano klasik Komukote. Mungkin karena grafik dari dinamisasi musiknya ceria dan mudah diterima, menjadikannya tepat dijadikan sebagai media pembelajaran.

6. Mass in D major: “Missa Solemnis”

The Missa Solemnis in D mayor, Op. 123, merupakan karya Ludwig van Beethoven yang ditulis pada massa khidmatnya bersamaan dengan Simfoni kesembilan. Meskipun tingkat pencapaian popularitasnya tidak sama dengan Symphony No. 9 ataupun Moonlight Sonata, namun dianggap sebagai prestasi besar dan menjadi salah satu lagu Beethoven yang paling terkenal.

Missa Solemnis didedikasikan untuk Archduke Rudolf dari Austria pada saat penobatannya sebagai uskup agung Olomouc tahun 1819. Hal ini ditunjukan dengan salinan yang disajikan kepada Rudolf (pelindung utama, murid, sekaligus teman Beethoven) yang bertuliskan, “Von HerzenMöge es wiederZu Herzen gehn!” (“Dari hati – semoga itu kembali ke hati!”).

Beethoven menyusun Missa Solemnis dengan struktur yang terbagi dalam lima gerakan, yaitu: Kyrie eleison, Gloria, Credo, Sanctus, dan Agnus Dei. Missa Solemnis menyajikan narasi musik terus menerus, hampir tanpa pengulangan, terutama di Gloria dan Credo yang menjadi dua gerakan terpanjang. Pada 7 Mei 1824, Beethoven mementaskan Missa Solemnis beserta Simfoni ke-9 di Wina dan dianggap mencapai sukses besar.

Penutup

Deretan lagu Beethoven yang paling terkenal memiliki pengaruh besar pada perubahan pola musik dan budaya di Eropa bahkan dunia. Beberapa karya besar Beethoven justru dihasilkan pada saat mengalami masa sulit dengan latar belakang yang bervariasi. Sebagian sheet music (partitur atau lembaran notasi) dari komposisi musiknya juga ditemukan dan dipublikasikan setelah Beethoven wafat. Nama besarnya telah berhasil membuktikan bahwa Beethoven mampu melewati masa-masa sulit dan mencapai kesuksesan.

Demikian postingan mengenai komposisi musik Beethoven yang paling populer. Jika ada tanggapa, silahkan sampaikan melalui komentar atau Kontak Admin Komukote. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan menjadi referensi…

Jika bermanfaat, bantu kami untuk berbagi...